Bagaimana Investor Bisa Bersiap untuk Perubahan Global
Produktivitas memuncak di Amerika Serikat setelah booming dot-com di awal tahun 2000-an dan telah menurun selama dekade terakhir. Pada saat yang sama, globalisasi telah mempercepat alih teknologi di seluruh dunia. Tren ini menunjukkan bahwa populasi, bukan inovasi, akan sekali lagi menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi. China dan India akan sekali lagi menjadi ekonomi terbesar di dunia selama beberapa tahun mendatang.
PricewaterhouseCoopers, sebuah perusahaan konsultan multinasional yang berbasis di London, menerbitkan sebuah laporan yang disebut The World pada tahun 2050 pada bulan Februari 2017 yang merinci bagaimana tatanan ekonomi global akan berubah pada tahun 2050. Dalam laporan tersebut, para peneliti percaya bahwa ekonomi Amerika Serikat akan jatuh ke tempat ketiga— setelah India dan Cina — dan sebagian besar Eropa akan jatuh dari sepuluh ekonomi terbesar. Tren ini dapat memiliki implikasi yang signifikan bagi investor internasional.
10 Ekonomi Teratas pada 2050
The PwC The World pada tahun 2050 melaporkan bahwa pasar negara berkembang akan menjadi salah satu dari sepuluh ekonomi teratas dunia oleh produk domestik bruto (PDB) dan purchasing power parity (PPP) pada tahun 2050.
Tabel di bawah ini menunjukkan perkiraan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk 2016 dan proyeksi PwC untuk tahun 2050 untuk mendemonstrasikan perubahan ini.
2016 | 2050 |
Cina | |
Amerika Serikat | India |
Amerika Serikat | |
Indonesia | |
Brazil | |
Rusia | |
Jepang | |
Jerman | |
Kerajaan Inggris |
Laporan PwC juga melihat pertumbuhan ekonomi tercepat antara 2016 dan 2050, yang termasuk pasar perbatasan menurut definisi hari ini.
Negara | Tingkat Pertumbuhan PDB | Perubahan Posisi |
Vietnam | 5,1 persen | 12 Tempat |
Filipina | 4,3 persen | 9 Tempat |
Nigeria | 4,2 persen | 8 Tempat |
Secara keseluruhan, PwC percaya bahwa ekonomi global akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2042, tumbuh pada tingkat rata-rata 2,6 persen antara tahun 2016 dan 2050. Tingkat pertumbuhan ini akan didorong sebagian besar oleh negara-negara pasar berkembang, termasuk Brasil, Cina, India, Indonesia, Meksiko. , Rusia, dan Turki, yang akan tumbuh pada tingkat rata-rata di atas rata-rata 3,5 persen, dibandingkan dengan hanya tingkat rata-rata 1,6 persen untuk Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan AS.
Implikasi bagi Investor
Home-country Bias: Kebanyakan investor cenderung kelebihan berat badan dalam investasi di negara mereka sendiri. Misalnya, Vanguard menemukan bahwa investor AS memegang sekitar 29 persen lebih banyak saham AS daripada kapitalisasi pasar AS, yang 43 persen, pada 31 Desember 2010. Teori keuangan menunjukkan bahwa investor harus mengalokasikan lebih banyak untuk sekuritas asing, yang membantu meningkatkan diversifikasi dan imbal hasil yang disesuaikan dengan risiko jangka panjang.
Bias negara-rumah bisa menjadi lebih bermasalah karena Amerika Serikat menyumbang lebih sedikit dan kurang kapitalisasi pasar global: Jika investor AS mempertahankan alokasi yang sama untuk investasi asing, meskipun ada penurunan pangsa kapitalisasi pasar global AS, mereka akan memiliki bias rumah-negara yang lebih besar.
Investor harus merencanakan untuk mengalokasikan lebih banyak untuk pasar negara berkembang selama tahun-tahun mendatang untuk menghindari bias yang mahal ini.
Perubahan Geopolitik: Amerika Serikat telah menikmati peran kepemimpinan dalam ekonomi global selama bertahun-tahun, tetapi dinamika tersebut dapat mulai berubah dengan munculnya pasar negara berkembang. Sebagai contoh, dolar AS telah lama menjadi mata uang cadangan paling penting di dunia, tetapi yuan Cina dapat mengambil alih dolar selama beberapa tahun mendatang. Ini bisa berdampak negatif pada penilaian dolar AS dari waktu ke waktu dan berpotensi mengguncang ekonomi global jika yuan volatile.
Cina, Rusia, dan banyak negara berkembang lainnya juga telah mengambil peran yang semakin besar dalam percakapan global. Ini bisa menghadirkan tantangan bagi Amerika Serikat dan Eropa selama tahun-tahun mendatang, terutama ketika menyangkut masalah perdagangan atau konflik global.
Dinamika ini dapat mengubah profil risiko saat ini dari pasar global dengan potensi peningkatan risiko geopolitik saat perebutan kekuasaan terjadi antara negara-negara dari waktu ke waktu.
Garis bawah
Amerika Serikat telah menjadi ekonomi terbesar di dunia untuk jangka waktu yang lama, tetapi dinamika tersebut dengan cepat berubah ketika China, India, dan pasar negara berkembang lainnya mendapatkan momentum. Investor harus menyadari perubahan global ini dan memposisikan portofolionya untuk menghindari bias negara-rumah melalui peningkatan diversifikasi internasional, serta lindung nilai terhadap potensi risiko geopolitik yang mungkin timbul dari perebutan kekuasaan ini.