Apa Krisis Keuangan Asia?

Penyebab, Resolusi, dan Pelajaran Krisis Keuangan Asia

Krisis Keuangan Asia 1997 adalah krisis keuangan yang mempengaruhi banyak negara Asia, termasuk Korea Selatan , Thailand, Malaysia , Indonesia , Singapura , dan Filipina . Setelah memposting beberapa tingkat pertumbuhan paling mengesankan di dunia pada saat itu, apa yang disebut "ekonomi macan" melihat pasar saham dan mata uang kehilangan sekitar 70% dari nilainya.

Dalam artikel ini, kita akan melihat penyebab krisis keuangan Asia dan solusi yang pada akhirnya membawa pemulihan, serta beberapa pelajaran untuk zaman modern.

Penyebab Krisis Keuangan Asia

Krisis Keuangan Asia, seperti banyak krisis keuangan lain sebelum dan sesudahnya, dimulai dengan serangkaian gelembung aset . Pertumbuhan ekonomi ekspor di kawasan itu menyebabkan tingginya tingkat investasi langsung asing , yang pada gilirannya menyebabkan melonjaknya nilai-nilai real estat, pembelanjaan perusahaan yang lebih berani, dan bahkan proyek-proyek infrastruktur publik yang besar - semuanya didanai oleh pinjaman besar dari bank-bank.

Tentu saja, investor yang siap dan pinjaman mudah sering menyebabkan berkurangnya kualitas investasi dan kelebihan kapasitas segera mulai terlihat di negara-negara ini. Federal Reserve Amerika Serikat juga mulai menaikkan suku bunganya sekitar waktu ini untuk melawan inflasi, yang menyebabkan ekspor kurang menarik (bagi mereka dengan mata uang dipatok terhadap dolar) dan investasi asing kurang.

Titik tipping adalah realisasi oleh investor Thailand bahwa pasar properti tidak berkelanjutan, yang dikonfirmasi oleh default Somprasong Land dan kebangkrutan Keuangan One pada awal 1997.

Setelah itu, pedagang mata uang mulai menyerang pasak baht Thailand ke dolar AS, yang terbukti berhasil dan mata uang itu akhirnya melayang dan terdevaluasi.

Setelah devaluasi ini, mata uang Asia lainnya termasuk ringgit Malaysia, rupiah Indonesia, dan dolar Singapura semua bergerak turun tajam.

Devaluasi ini menyebabkan inflasi tinggi dan sejumlah masalah yang menyebar seluas Korea Selatan dan Jepang.

Solusi untuk Krisis Keuangan Asia

Krisis Keuangan Asia akhirnya diselesaikan oleh Dana Moneter Internasional (IMF), yang menyediakan pinjaman yang diperlukan untuk menstabilkan ekonomi Asia yang bermasalah. Pada akhir 1997, organisasi tersebut telah memberikan pinjaman jangka pendek lebih dari $ 110 miliar kepada Thailand, Indonesia, dan Korea Selatan untuk membantu menstabilkan ekonomi - lebih dari dua kali lipat pinjaman terbesarnya sebelumnya.

Sebagai imbalan untuk pendanaan, IMF mengharuskan negara-negara untuk mematuhi ketentuan ketat, termasuk pajak yang lebih tinggi, mengurangi belanja publik, privatisasi bisnis milik negara dan suku bunga yang lebih tinggi yang dirancang untuk mendinginkan ekonomi yang terlalu panas. Beberapa pembatasan lain mengharuskan negara untuk menutup lembaga keuangan yang tidak likuid tanpa memperhatikan pekerjaan.

Pada tahun 1999, banyak negara yang terkena dampak Krisis Keuangan Asia menunjukkan tanda-tanda pemulihan dengan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB). Banyak negara melihat pasar saham dan penilaian mata uang mereka secara dramatis berkurang dari tingkat pra-1997, tetapi solusi yang diterapkan menetapkan panggung untuk kebangkitan kembali Asia sebagai tujuan investasi yang kuat.

Pelajaran dari Krisis Keuangan Asia

Krisis Keuangan Asia memiliki banyak pelajaran penting yang berlaku untuk peristiwa yang terjadi hari ini dan peristiwa yang mungkin terjadi di masa depan.

Berikut adalah beberapa hal penting:

Garis bawah

Krisis keuangan Asia dimulai dengan serangkaian gelembung aset yang dibiayai dengan investasi langsung asing. Ketika Federal Reserve mulai menaikkan suku bunga, investasi asing mengering dan valuasi aset yang tinggi sulit dipertahankan. Pasar ekuitas bergerak jauh lebih rendah dan Dana Moneter Internasional akhirnya turun tangan dengan miliaran dolar pinjaman untuk menstabilkan pasar. Perekonomian akhirnya pulih, tetapi banyak ahli yang kritis terhadap IMF karena kebijakan ketatnya yang mungkin memperburuk masalah.